Senin, 19 Oktober 2009

analisis figure publik 2 (Henry Carter Breson)


Dianggap sebagai salah satu fotografer terbesar pada zamannya, Henri Cartier-Bresson adalah seorang pemalu Prancis yang ditinggikan "snap menembak" ke tingkat disiplin yang halus dan seni. His sharp-shooter's ability to catch "the decisive moment," his precise eye for design, his self-effacing methods of work, and his literate comments about the theory and practice of photography made him a legendary figure among contemporary photojournalists. Tajam-penembak-Nya kemampuan untuk menangkap "momen yang menentukan," dengan mata yang tepat untuk desain, tidak menonjolkan dirinya metode kerja, dan melek huruf komentar tentang teori dan praktek fotografi membuatnya menjadi tokoh legendaris di kalangan photojournalists kontemporer.
Henri Cartier-Bresson lahir pada tahun 1908, di Chanteloupe, Perancis, dari kelas menengah makmur orangtua. He owned a Box Brownie as a boy, using it for taking holiday snapshots, and later experimented with a 3 X 4 view camera. Dia memiliki sebuah Box Brownie sebagai seorang anak laki-laki, menggunakannya untuk mengambil foto-foto liburan, dan kemudian bereksperimen dengan 3 X 4 view kamera. But he was also interested in painting and studied for two years in a Paris studio. Tapi ia juga tertarik pada lukisan dan belajar selama dua tahun di Paris studio. This early training in art helped develop the subtle and sensitive eye for composition, which was one of his greatest assets as a photographer. Pelatihan awal ini membantu mengembangkan seni halus dan peka mata untuk komposisi, yang merupakan salah satu aset terbesar sebagai fotografer.
Sebagai seorang jurnalis, Henri Bresson Cattier merasa perlu berkomunikasi intens apa yang ia berpikir dan merasa tentang apa yang dilihatnya, dan sementara itu halus gambar yang sering mereka jarang jelas. He had a high respect for the discipline of press photography, of having to tell a story crisply in one striking picture. Dia punya rasa hormat tinggi disiplin pers fotografi, karena harus menceritakan sebuah kisah singkat dalam satu gambar yang mencolok. His journalistic grappling with the realities of men and events, his sense of news and history, and his belief in the social role of photography all helped keep his work memorable. Jurnalistik Nya bergulat dengan realitas manusia dan peristiwa, rasa berita dan sejarah, dan kepercayaan dalam peran sosial fotografi semua membantu menjaga karyanya dikenang.
Dengan memiliki begitu ahli mengeksploitasi kemampuan kamera untuk mencocok sejenak di waktu yang mengalir, Cartier-Bresson telah meninggalkan sebuah harta karun gambar. We can, through his eyes, see the world a little more clearly, and find truth and beauty where we had not guessed they existed. Kita bisa, melalui mata, melihat dunia sedikit lebih jelas, dan menemukan kebenaran dan keindahan di mana kita tidak menduga mereka ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar